body { margin:0; font-family:Droid Serif; background:#fafafa; line-height:1.5; cursor:default; } section { box-shadow:0 2px 5px rgba(0,0,0,0.2); background:#fff; width:60%; margin:100px auto; padding:50px; } blockquote { text-align:center; font-size:20px; border-top:1px solid #ccc; border-bottom:1px solid #ccc; position:relative; quotes: "\201C""\201D""\2018""\2019"; } blockquote:after { color:#ccc; font-family:Source Sans Pro; content: open-quote; font-size:80px; position:absolute; left:50%; bottom:calc(100% - 20px); background:#fff; height:55px; width: 55px; line-height:normal; text-align:center; transform:translateX(-50%); } blockquote p { padding:20px; }
Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 September 2019

Keresahan Mamak




Tau arisan? Ya tau lah pasti ya. Itu loh, yang kayak di lagu Inul Daratista. Dimana seseorang yang mendapat giliran-nya, maka dia senang. Wkwk. Kalau di Medan namanya bukan arisan, tapi 'tarikan' atau 'jula-jula'.

Senin, 24 September 2018

Cinta


"Cinta itu perang, yakni perang yang hebat dalam rohani manusia. Jika ia menang, akan didapati orang yang tulus ikhlas, luas pikiran, sabar & tenang hati. Jika ia kalah, akan didapati orang yang putus asa, sesat, lemah hati, kecil perasaan dan bahkan kadang-kadang hilang kepercayaan pada diri sendiri." ~Buya Hamka

Sabtu, 22 September 2018

Lupa dan Maaf


"Memang kenapa kalau aku suka mengungkit-ungkit?"
"Nggak baik itu."
"Ah, biar!"
"Ya sudah. Memangnya aku perduli?"

Minggu, 16 September 2018

Di Angkot: Bukan Dilan-Milea





Masih ingat dialog Dilan dan Milea di angkot? Itu, yang ada di buku Dilan 1990, atau kalau kamu belum baca bukunya, pasti pernah kan nonton filmnya? Atau trailernya deh. Pernah?

3 Alasan Dilan-Milea Tidak Menikah



Tau kisah Dilan si bad boy yang romantis? Bagi pecinta Dilan kayak aku ini, tentu aja hampir hafal semua dialog yang ada di ketiga novel tersebut: Dilan 1990, Dilan 1991, Milea. Aku berpikir, dengan banyaknya dialog dan cerita baper di dalamnya yang bisa buat aku senyum-senyum sendiri atau terkadang ketawa lepas, rasa-rasanya sangat disayangkan kalau Dilan dan Milea ini tidak jadi menikah. Mungkin ada bebarapa sebab selain kesalahpahaman dan kurangnya komunikasi antara Dilan dan Milea tersebut. Aku mau coba merangkumnya dalam 3 alasan Dilan dan Milea tidak menikah. Tadinya sih mau buat 5. Cuma kayaknya kebanyakan deh. Nggak ada bahan juga sih. Hahaha. 

Kamis, 13 September 2018

"Kalau kamu bahagia sama dia, aku juga ikut bahagia"


" Aku ingat, aku pernah bilang kepadanya jika ada yang menyakitinya, maka orang itu akan hilang. Jika orang itu adalah aku, maka aku pun harus hilang." (Milea: Suara dari Dilan, bab 10; Putus, hlm. 220)

Sabtu, 22 Oktober 2016

Menjadi Penulis




 Kenapa Saya Harus Menjadi Penulis?

       Bagaimana perasaan kita jika selama hidup belum bisa membahagiakan banyak orang? Bahkan belum bisa membahagiakan orangtua kita sendiri? Ya, sedih. Begitulah yang saya rasakan saat melihat orang-orang sekitar saya yang masih di usia muda telah mampu membahagiakan orangtua nya, bahkan banyak orang.

     Misalnya saja seperti, Lambertus Darian. Di usianya yang masih 16 tahun sudah memperoleh penghargaan New Sales 2010 dengan menjadi sales perusahaan importer. Ada juga Hamzah Izzulhaq dengan bisnis  bimbingan belajarnya, dan masih banyak lagi.
      Sudah jelas tergambar di pikiran saya senyuman bangga dari orangtua mereka. Betapa tidak? Dengan usia yang masih begitu muda mereka sudah mampu membuat orangtua mereka menangis bahagia, mengharumkan nama besar keluarganya, dan manfaat lain yang telah mereka berikan.
Sedang saya belum banyak melakukan hal berharga seperti itu. Di sisi lain, saya juga tidak tahu dunia bisnis. Maka, saya putuskan untuk menjadi penulis. Karena menurut saya, saya lebih mudah menguasai dunia kepenulisan yang kebetulan saya juga banyak teman-teman yang suka menulis, jadi mudah mendapat ilmunya. Walaupun saya tahu, EYD saya dalam menulis masih sangat berantakkan.

        Saya berharap dengan menjadi penulis, yang nantinya karya nya akan dibaca banyak orang mampu membuat orangtua saya bangga. Dan setidaknya ada satu kebaikan yang saya berikan kepada mereka.
      Bagi saya, berbuat baik dan patuh kepada semua nasehat orangtua belumlah cukup membuat mereka bahagia. Harus ada satu hal membanggakan yang membuat mereka merasa tidak sia-sia membesarkan kita, mendidik  kita, dan menyekolahkan kita di sekolah formal sampai kita menjadi seperti sekarang ini. Walaupun permintaan mereka sederhana saja, “Sekolah yang benar agar ilmunya bermanfaat untuk orang lain,” tentu saja kita harus memberikan yang lebih. Dan di sini, menjadi penulis adalah keharusan bagi saya.

     Selain motivasi untuk membahagiakan orangtua saya melalui menulis, saya juga ingin berbagi dengan cara menulis. Berbagi dalam segala hal, cerita, pengalaman, dan pengetahuan. Karena menurut saya, terkadang pengalaman terbaik kita yang tidak dialami orang lain, mampu merubah hidup orang lain jika pengalaman itu kita tuliskan.
      Menjadi seorang penulis juga merupakan cita-cita saya dari SD. Entahlah, mungkin karena saya suka menuliskan cerita-cerita yang saya alami setiap harinya dalam buku harian.  Dan menurut saya, inilah saatnya saya wujudkan cita-cita saya itu. Saya harus mewujudkannya. Saya harus jadi seorang penulis.Tetapi tetap saja, sampai saat ini, hal yang mendorong saya harus menjadi penulis adalah kebahagiaan orang tua.

ODOP Batch 1



SEKILAS CERITA ‘NGGAK PENTING
============================
    “Selamat! Anda dinyatakan lolos sebagai … “
Begitulah kira-kira isi dari pesan yang masuk ke e-mail saya kemarin. Entah sebagai apapun itu –menurut saya- belum saatnya untuk di-publish sekarang.

     Jujur, rasanya senang sekali bisa diterima di ‘tempat’ itu, dan kaget juga kenapa bisa diterima. Haha. Pasalnya, syarat-syarat yang saya kirim ke e-mail tersebut benar-benar diujung deadline. Bagaimana tidak? Deadline yang dituliskan, 20 Januari 2015, pukul: 00.00. Sedangkan saya baru kirim 23.56 dan ada satu syarat yang belum terpenuhi; foto. :D
     
Bagaimanapun juga, ini belum berakhir. Ini baru permulaan. Sama seperti tes masuk PTN, ketika sudah lolos jadi Mahasiswa di PTN tersebut bukan berarti perjuangan  telah berakhir. Karena, ketika masuk di PTN tersebut itulah sebenar-benar perjuangan. Perjuangan bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan sekitar,  bersosialisasi, berlomba-lomba mencari  ilmu sebanyak-banyaknya guna diamalkan dan diterapkan dengan sebaik-baiknya, mencari-cari perhatian dosen, mencari jodoh, ~eeh.   
  Pokoknya, masih banyak lagi hal-hal lain yang harus diperjuangkan.
Itu hanya gambaran sekilas saja, karena beginilah yang saya rasakan sekarang –mungkin- kamu juga. Saat diterima ‘di sini’, saya harus belajar lebih banyak, lebih giat, dan lebih semangat. Ini bukan main-mainan atau gaya-gayaan. Ini serius. Ini amanah.
        
      Tapi, seberat apapun itu saya harus bertahan dan InsyaAllah akan terus semangat meski pun saya tahu pasti selalu  ada masa-masa sulit yang akan saya hadapi dalam ‘perjalanan’ ini nantinya.
Dalam ‘perjalanan’ ini, kuncinya adalah yakin. Y-A-K-I-N, YAKIN! Karena memang kita harus punya keyakinan, hal sekecil apapun yang kita lakukan, yakinlah pasti akan berdampak besar di masa depan, baik untuk kita maupun orang lain.
     
      Selamat berjuang buat saya. Selamat berjuang buat teman-teman semua. Semangat!
“Satu hal yang membuat aku terus bertahan (entah tentang apapun itu) adalah KEYAKINAN”


Medan, 2016


Agar Allah Mencintai Kita



     Terkadang kita merasa susah hati ketika banyak sekali masalah yang menghampiri kita. Masalah itu bisa berupa masalah ekonomi, kekeluargaan, konflik dengan teman dan sebagainya. Bahkan kelalaian dalam beribadah bisa jadi masalah. Betapa tidak? Ketika kita ingin melakukan ibadah-ibadah lain selain yang telah diwajibkan, maka ada saja  rintangannya. Misalkan, kita berniat untuk sholat malam, kita sudah pasang alarm agar kita terbangun saat itu. 
     Tetapi, terkadang kita tidak mendengarnya atau kita dengar tetapi malas untuk bangun. Itu adalah masalah. Masalah yang tidak boleh disepelekan. Masalah yang harus kita perbaiki.  Jika kita sudah berusaha untuk memperbaiki, namun masih saja terasa sulit, maka masalah sebenarnya adalah, ‘Apakah Allah sudah tak Mencintai kita lagi?’ sehingga berat sekali rasanya menjalankan kebaikan-kebaikan ini.  ‘Apakah Allah sudah tak Mencintai kita lagi?’ sehingga Allah Biarkan kita terus menerus dalam kelalaian dan kesusahan. 

    Jika benar demikian, lalu apa yang menyebabkan Allah tidak Mencintai kita lagi? Ahh ya, mungkin selama ini dalam beribadah kita tidak pernah benar-benar ikhlas, masih ingin pamer ke orang lain. Mungkin juga karena kita lebih peduli bagaimana menyelesaikan masalah kita dari pada kesehatan dan kebahagiaan orang tua kita, dan masih banyak lagi.

    Maka, apa yang harus kita lakukan agar Allah tetap Mencintai kita?
Nah, Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarny dalam buku terjemahannya, “Jangan Takut Hadapi Hidup”, menyebutkan bahwa ada 10 sifat utama yang menjadi indikator akan kecintaan Allah swt. terhadap kita diantaranya adalah:

  1. .  Melakukan segala sesuatu dengan disertai ketulusan hati (ikhlas)
  2.  Ridha dengan keberadaan Nabi Muhammad saw. sebagai  imam dan menjadikannya teladan serta menerima semua hukum yang bersumber darinya. Rasulullah saw. juga ditempatkan dalam hatinya sebagai sosok orang yang paling dicintai dari yang lain. 
  3. Cinta dan benci karena Allah swt. 
  4. Senantiasa menjaga hati terhadap umat Islam. 
  5.  Upaya yang maksimal dalam melaksanakan semua yang diwajibkan Allah swt. dan menambah dengan       melaksanakan yang sunah. 
  6.   Mengikuti keyakinan salafush shalih dan juga tidak membanggakan diri.
  7.  Mengajak kepada kebaikan, memerintahkan paada yang makruf, dan tidak menyimpan pengetahuannya.
  8. Cinta kebersamaan dan benci perpecahan, berusaha untuk mencari titik temu dan menjauhi perbedaan yang mengarah pada perpecahan.
  9. Mengembalikan sesuatu kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits pada saat terjadi perselisihan.
  10. Senantiasa mengatakan yang benar dan tidak mencampurnya dengan yang batil, mereka juga tidak mengikuti bisikan nafsunya.

      Itulah beberapa hal  yang harus kita lakukan agar Allah swt. tetap Mencintai kita, hamba-hambanya yang lemah dan masih banyak kekurangan ini. Mungkin masih banyak lagi hal yang bisa kita lakukan, tetapi saya rasa 10 keutamaan ini adalah garis besarnya.
Selamat berjuang dan tetap semangat mencari Keridhaan serta Kecintaan Allah swt.
Semoga bermanfaat. ^_^

Kamis, 13 Oktober 2016

Dukotu





Assalamu’alaikum. Teman-teman tau tentang puisi dua koma tujuh yang sering disingkat Dukotu? Atau sudah ada yang pernah membuatnya? Nah, di sini sayaingin berbagi sedikit tentang pengalaman saya menulis puisi dua koma tujuh. Mungkin, bisa dimulai dari awal saya mengenal  dukotu kali, ya?

Jadi, waktu itu, kalau tidak salah pada awal-awal tahun 2015, saya sering kali melihat kiriman-kiriman ke group lewat di beranda facebook saya yang isinya tentang puisi singkat. Hanya terdiri dari dua baris dan tujuh kata. Namun sangat penuh makna.
Karena penasaran maka saya coba buka group tersebut. Saya buka file-file yang berisi tentang penjelasan apa itu Dukotu dan apa-apa saja syaratnya. Ketika sudah mulai memahaminya sedikit, maka saya mencoba untuk menulis Dukotu saya di group itu.

Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Beberapa orang yang sudah ahlinya dalam membuat Dukotu kerap kali member kritikan atau saran-saran untuk puisi Dukotu ssaya tersebut. Ada yang mengatakan bahwa puisi saya itu seperti prosa, kaku, tidak sesuai, tidak ada titimangsa, dan komentar-komentar lainnya.

Dan, kalian tahu? Walau sering dikomentari, 2 puisi Dukotu saya mendapatkan sematan bintang dari beberapa senior di Dukotu. Yeeaayy!!

Sematan bintang itu tidak sembarangan diberi. Dan yang memberi adalah senior-senior yang memang lihai dalam menilai kelayakan Dukotu itu.  Salah satu judul puisi saya yang mendapatkan sematan bintang berjudul, “Rindu: Ayah”. Selain dapat sematan bintang dari senior, saya juga mendapat komentar-komentar baik dari beberapa teman di group Dukotu. Alhamdulillah. Senang sekali rasanya. Hehe.

Tapi sekarang saya sudah jarang membuat puisi Dukotu. Belum dapat inspirasi. Hiks!
Mudah-mudahan nanti bisa nulis Dukotu lagi. ^_^
Baiklah, saya rasa itu dulu ya teman-teman. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai puisi Dukotu, silahkan klik link berikut  >> https://m.facebook.com/?soft=notifications

Dan sebagai ucapan terima kasih saya kepada teman-teman yang sudah mau berkunjung ke rumah baru saya yang sederhana namun penuh cinta ini, *eeaaa , maka saya sajikan teman-teman beberapa puisi Dukotu saya yang pernah saya tulis dulu. Selamat menyicipi. ^^

***********************************************************
1) SEBUAH UNGKAPAN
Harum tetesan tinta, membujuk
Aku rindu menulis

2) SUFI BERDASI
Peluh keringat dalam kefanaan,
Bersimpuh dalam kegelapan

Mdn, 29012015

3) RINDU
: Ayah

Dua hari serupa dua dasawarsa
Sapamu;redup


4) TA’ARUF
Tiada kenal maupun sapa,
Namun ada cinta.

Mdn, 270115

4) TERABAIKAN

Terjatuh kemudian terluka
Tanpa pemapah dibiarkan saja

Mdn, 270115

5) AYAH LUPA CARA BERWUDHU
Bersamaan, anak basuh muka
Ayah basuh telinga

Mdn, 280115

6) SEPERTIGA MALAM

Indah perjumpaan berbasuh embun
Aku malas beranjak

Mdn, 290115


7) LAUH MAHFUZ

Jin curi berbagai rahasia,
maka tertipulah manusia

Mdn, 290115



********************
Suka yang mana? Hehe


Senin, 10 Oktober 2016

Menulis Target


Mengapa Kita Harus Menulis Target?
Seringkali kita mendengar para motivator maupun membaca buku-buku motivasi yang mengajak kita untuk menulis target-target yang ingin kita capai. Mengapa demikian? Agar kita bisa selalu melihat, mengingat, dan memperjuangkan apa yang kita targetkan tersebut, sekecil apapun bentuk target itu.
Target yang hanya diucapkan dan diniatkan saja sering kali berakhir tidak seperti yang kita harapkan (baca: tidak tercapai). Hal ini terjadi pada saya pribadi. Saya sering sekali menyimpan banyak target dalam ingatan saya tanpa saya tulis alias hanya membayangkan. Alhasil sebagian besar target tersebut hilang begitu saja. Sampai akhirnya saya mulai mempraktikkan cara yang dianjurkan oleh beberapa motivator. Iya, menulis target!

Saya cobamenulis target-target yang ingin saya capai pada bulan Desember 2015 kemarin. Alhamdulillah sebagian besar target-target itu terealisasi. Karena selain saya tulis, target itu saya pajang juga di dinding kamar, agar saya selalu melihatnya untuk kemudian semaksimal mungkin mewujudkannya. Jadi, ketika melihat tulisan-tulisan itu saya semakin bersemangat untuk memperjuangkannya menjadi nyata. Meskipun ada target yang tidak terealisasi, tidak masalah. Saya sadar betul, tidak terealisasinya beberapa target saya itu dikarenakan kelalaian saya dalam membagi waktu. Setiap target yang terealisasi saya beri predikat bintang (Baca: Gambar Bintang). Hal itu, selain untuk menyemangati, tentu saja juga sebagai penghargaan buat diri saya sendiri.

Ahmad Rifai’I Rif’an dalam bukunya “Don’t Cry! Allah Loves You, Part: Belajar dari Dream-25” mengatakan. “Tuliskan Dream-25 yang tinggi, muluk, hebat, prestatif, kontributif. Ingat, tuliskan! Bukan sekedar dibayangkan. Yakinlah, dampaknya akan lain antara dibayangkan semata dengan dituliskan.”
Nah, jika kamu belum mencobanya maka cobalah! Dan rasakan sensasi yang luar biasa. Hahaha

Jangan lupa tuliskan target mu yang hebat-hebat disertai doa, usaha, dan restu orang tua. Jika berkenan masukkan juga nama ku di dalam list target mu. Misalnya, “Menjadikan Novriana Rahma Siagian sebagai partner untuk keliling dunia gratis di tahun 2019.” Tenang saja, hal itu sudah pasti saya aamiin-kan. Hahaha
Sudah jangan pikir panjang lagi. Ayo tulis target mu sekarang juga! Semangat!


Medan, 13 Januari 2016


Sabtu, 08 Oktober 2016

Rumah Baru




Assalamu’alaikum Wr. Wb
Kamu tidak lupa kan bahwa menjawab salam itu wajib? Maka jawablah.
Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah mau berkunjung ke rumah baruku. Aku lagi sakit. Jadi, tidak begitu konsentrasi menulis. Serius.
Ini rumah baruku. Yang kemarin tidak bisa lagi dihuni. Sudah tidak layak. Huhu sedihnya.
Aku takut sendiri, kawan. Sebab itu, sering-seringlah berkunjung ke rumahku ini ya?
Aku akan menceritakan banyak hal nantinya ke kamu. Tentang aku, kamu, dia, juga mereka.
    Mengerti?

Alhamdulillah, aku memiliki banyak teman yang nantinya bakal aku jadikan ‘tumbal’ sebagai bahan cerita  buat kamu. Ha Ha Ha.
Kamu juga nanti bakal aku jadikan tumbal. Mau kan?
Nanti, di rumah baruku ini, aku membuka toko kecil-kecilan. Jualan buku. Kamu beli, ya!

Aku pastikan bahwa di rumah baruku ini bakal rame. Tumbalnya juga banyak nanti. Kamu tunggu saja. Mau ya menunggu? Menunggu itu melatih kesabaran. Tapi kamu juga harus memiliki keyakinan di dalamnya walaupun sedikit. So, tunggu dan yakinlah akan adanya hal-hal yang akan aku ceritakan di sini. Oke?

Kusudahi, ya. Baterai laptopku sudah mau habis dan di sini sedang mati listrik. Ha Ha Ha.
Sekali lagi, terima kasih sudah berkunjung.

Medan, 8 Oktober 2016